Hey Ho Herbivora | Minggu Kambing

Pada malam yang penuh auman kegilaan– angin berhembus melewati celah-celah, bangunan abu-abu, menabrak dinding beku, mengantarkan dingin yang teramat dingin; suatu zaman ketika terdengar bebunyian mengerikan seperti gajah yang mangaum panjang memekik setiap penjuru ruang. Telinga terkekeh geli, miris, tragis, meminta ampun; seolah hanya teriakan yang mampu diperdendangkan malam suatu zaman. Kegilaan yang kita takuti, memaksa raga untuk bergidik ngeri.
Zaman yang takterjamahi oleh waktu, oleh kaum barbar sekalipun, menyediakan keduanya sekaligus dalam panggung parodi yang mengerikan; bukan hantu atau legenda penuh tragedi, melainkan drama heroik dari secuil teka-teki

*  *  *  *  *

Senja sudah lagi tiba pada cuaca yang masih hujan; cahaya kuning yang lembut menyelimuti bulir-bulir air yang pecah menabrak permukaan. bayang-bayang hitam pada latar kuning menjadikan jalan yang padat bagai panggung pewayangan nan megah. Jalan yang takbergerak sedari tadi, membuat supir jadi tidak enak hati katanya, dan memutuskan untuk memeriksa ke luar. Sang supir menyetel kaset kompilasi blues 50’an. Jika bukan seleranya, mungkin ia hanya menyetel yang ada di dalam taksi ini. Sedikit langka memang bila lagu era 50’an diperdendangkan dalam angkutan umum, terlebih lagu blues seperti ini. Jelas ini bukan taksi miliknya, foto supir asli terpampang jelas di atas tape. Supir tembak atau apa aku taktahu pasti.

Suara klakson bergema, berirama, mereduksi rambatan pada udara terdengar sayup-sayup tipis, melebur dengan suara khas Etta Jones pada pita rekaman tua, diseling suara piano yang lirih, flute yang usil dan bass yang konstan, sampai ke telingaku yang sedari tadi termenung karena suara pendingin mobil yang menderu. Lamunanku sudah lagi tersentak karena udara sore gerimis yang hangat masuk lewat pintu taksi yang kutumpangi dibuka; suara klakson mengeras seketika, melesat lewat celah-celah udara, bercampur suara gerimis, teriakan, dan banyak tanda tanya.

“ada kecelakaan katanya pak!” Supir taksi itu menerangkan sembari menutup pintu. Suara merambat kembali pelan pada benda-benda padat.

“parah pak?”

“mobil pemadam terbalik! tembus masuk showroom mobil…”

“terbalik?” tanyaku heran. Bagaimana mobil pemadam kebakaran dapat terbalik di jalur yang sering padat seperti ini?

“diseruduk gajah katanya pak!”

“gajah?! gajah bagaimana?”

Gajah! ya gajah! bapak tidak tahu gajah?! itu gajah, badannya ditulis besar-besar! Manifesto Surrealis!” Supir itu tiba-tiba berteriak, berjingkat-jingkat, membunyikan klakson keras-keras.

Dia menunjuk ke luar, menarikku untuk melihat gedung yang terbakar; polisi di mana-mana, banyak orang yang penasaran melihat bagaimana mobil pemadam melayang terbang menghantam toko mobil karena serudukan gajah. Gajah? takjauh dari lokasi kejadian, beberapa petugas dibantu dengan sekelompok orang berhasil mengamankan gajah yang disebut-sebut tadi. Badannya yang besar keabuan basah karena gerimis dan bertuliskan : MANIFESTO SURREALIS.

Aku terbangun dengan susah payah, keringat sudah begitu deras mengalir pada punggungku. Mimpi tadi bukanlah mimpi buruk, melainkan yang teraneh yang mampu aku pikirkan. Gajah? Manifesto Surrealis? Mengingat kasus yang sedang kutangani, sedikitnya aku jadi berpikir, mungkin aku butuh libur.

Telepon berdering, mungkin sudah lima deringan, dan aku masih taksanggup untuk beranjak dari tempatku. Selain mimpi aneh tadi, udara di hari minggu bertiup ganjil, membuat perasaanku tertinggal di suatu tempat; mungkin di kamar mandi, mini market atau salah satu heels seorang wanita asing bergaun merah bata.

Hari minggu dengan segala keanehannya masih dapat menjamah ruang rahasiaku ini, meski tempat yang harus ditempuh akan membuat bingung; berkelok masuk ke jalan yang sempit, melalui duabelas kali kelokan, melewati selokan, turun sedikit di pertigaan, memutar arah, belok ke kiri duakali, ke kanan satukali, menembus gorong-gorong, harus merayap, tengkurap, meliuk, mengangkat badan, lalu keluar di jalan takberpenghuni, itu pun masih harus memasuki jalan kecil lagi, dengan kelokan mengecoh sebanyak enamkali baru sampai ke tempat persembunyianku di celah-celah bangunan mungil bekas industri rumahan tekstil. Namun kejaiban hari minggu, percepatan waktunya yang aneh, masih dapat menerkam perasaanku yang sembunyi di tempat antahberantah ini. Bukan karena hari ini adalah hari libur yang akan cepat berakhir, aku takmemikirkannya sama sekali, namun ada sesuatu yang mengalir aneh bak sungai berombak pada laju waktu di hari minggu. Kadang persepsiku tentang waktu akan terapung takjelas bagai di ruang tanpa grafitasi. Pukul empat sore misalnya, melayang-layang di udara tempatku berdiam. Kadang waktu itu menabrak atap, lemari, lalu jatuh ke dalam bagian bumi paling bawah dan takpernah muncul pada permukaan kesadaranku.

Kali ini telepon berdering lebih memaksa, bunyi yang mengganggu telinga memaksa untuk menjawab. Tidak ada yang lebih memaksa dari bunyi telepon yang menuntut dengan segala kepentingan manusia di baliknya. Ah! perasaan magis dari sensasi hari minggu tidak cukup rupanya untuk menganggu ketenangan ruang rahasiaku. Meski rahasia, dua hal yang menuntut ini tetap dapat menjamah kerahasiaan keberadanku. Apakah masih menjadi suatu kerahasiaan?

“lama sekali kau angkat telepon! ada kasus yang sepertinya mirip dengan yang tempo lalu, cepat kau datang ke sini!” Sambil memberikan alamat, Yfet lalu menutup teleponnya tanpa basa-basi sedikitpun.

Yfet adalah rekan sejawatku dalam memecahkan banyak kasus. Semenjak kasus-kasus yang aneh bermunculan; yang menjajikan bahwa semua itu merupakan kumpulan hal yang terkait, Yfet jadi lebih bersemangat dalam usaha menuntaskan teka-teki yang terlihat takmungkin terpecahkan. Sifatnya yang praktis, tidak bertele-tele, membuat kami berhadapan dengan problema-problema baru yang menambah keruwetan. Baginya kasus semacam ini merupakan tantangan yang harus diatasi, takpeduli lagi akan kejelasan bentuk masalahnya, Yfet sudah menyimpan hasrat terhadap kasus ini. Aku sendiri sudah tidak begitu yakin akan kegunaan mengorek kasus ini lebih dalam, tapi memang harus diakui, ke-intelektual-an kami diuji pada kasus yang sedang ditangani ini.

Pernah sekali waktu, ketika terjadi kasus pembunuhan yang menggunakan semacam jarum kecil yang dilontarkan oleh alat yang dirancang sedemikian rupa, menembakan jarum kecil yang tepat mengenai salah satu syaraf pada tengkuk, menembus membuat korban seolah mati karena gagal pernapasan; Yfet dengan ketelitian yang luar biasa dalam mengolah tempat kejadian, hanya dengan melihat serpihan debu yang dianggap janggal, ia mampu merunut kejadian dengan tepat dan menemukan tersangka yang seorang seniman teater. Yfet percaya bahwa di sekitar kita terdapat banyak macam pembunuhan cerdas, bila takmengatasi itu, kematian hanyalah gejala alam yang wajar. Menurutnya, kematian sudah pasti merupakan pembunuhan, dengan skala besar, tersangka bisa saja merupakan kekuatan alam. Kematian yang ganjil sudah barang tentu mesti dituntaskan; berlandaskan hal ini, Yfet jadi begitu terobsesi dengan pembunuhan.

Aku melihat jam, waktu menunjukan masih pukul lima tiga puluh pagi. Aku memastikan bahwa tidak ada yang janggal di sekitarku selain perasaanku yang telah ditawan hari minggu. Kuperhatikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja, koran, data, dan informasi juga cuilan peta murah yang tertempel di dinding. Secara seksama aku merunut tulisan, dan foto-foto yang usang; ada foto barang bukti seperti pisau, racun, tali, foto bercak darah, noda pada lengan yang kaku, foto gerak-gerik seseorang; gestur, mimik, dan segala praduga pada hal-hal mencurigakan. Pandanganku beralih pada judul-judul berita di media cetak: Sang Dalang Murka, Tragis di Kantor Jurnalis, Polisi Bungkam Soal Si Mutilasi Politik, dan masih banyak lagi judul-judul yang seolah kisah dalam komik. Aku bergeser menuju bagan-bagan petunjuk yang membingungkan, yang penuh sandi rahasia: vjo126, “burung terbit takusah takut”, dan ada pula yang berupa angka acak, juga gambar semacam kolase penuh manik-manik.

Aku bergegas dalam keremangan ruang rahasiaku, menyiapkan berbagai hal untuk menunjang tugasku hari ini: satu pak sarung tangan karet, beberapa perkakas kecil seperti pisau lipat, pinset beberapa ukuran, beberapa buku catatan, alat tulis, tape recorder, taklupa juga beberapa peluru untuk revolver rakitan yang kudapat dari pasar gelap. Kusiapkan semua dalam satu ransel, beberapa di saku mantelku dan pisau juga revolver pada saku vest. Setelah semua lengkap, taklupa mengunci dan menyiapkan beberapa perangkap, seperti beberapa peledak yang siap menghancurkan bangunan ini dan segala isinya bila ada penyusup yang coba mencuri berkas-berkas penting yang kutinggal di dalam sana. Bukannya khawatir terhadap pesaing sesama detektif swasta, melainkan berkas yang kutinggalkan di sana, dapat dimanfaatkan untuk banyak kepentingan, juga kepentingan perpolitikan. Aku takmau bila semua itu jatuh ke tangan yang salah.

Setelah melewati liku-liku jalan tikus tempat persembunyianku, aku masih harus berjalan sejauh 1Km untuk sampai ke bangunan bioskop tua yang terbengkalai. Di sana kuparkirkan mobil jenis sedan Corrola E10 buatan Jepang. Dengan perawatan yang tepat, bahkan mesin yang tua pun dapat melesat dengan baik. Pukul enam tepat, aku bergegas menemui Yfet ke tempat kejadian.

Hari minggu pagi yang lenggang, dan jarak tempuh yang takterlalu jauh, membuatku tiba dengan cepat di lokasi kejadian. Tempat itu merupakan sebuah apartemen murah tingkat lima di pinggiran kota. Lokasinya yang berada di sisi jalan besar, dengan cepat menjadi pusat tontonan karena banyaknya mobil polisi dan tim forensik yang mengundang rasa penasaran siapapun yang lewat. Tempat perkara berada di lantai tiga, di kamar nomor 322, kamar yang memiliki jendela menghadap ke jalan. Pada lorong bangunan menuju kamar 322 aku bertemu dengan Yfet dan kepala kepolisian setempat yang kebetulan pernah menyewa kami dalam menangani beberapa kasus.

“kau harus lihat sendiri apa yang ada di dalam. Tim dari pak Lukas belum mengambil data, menunggu hipotesa kita. Coba kau lihat dulu ke dalam.” Yfet berkata padaku. Terlihat beberapa guratan lelah pada wajahnya.

Cahaya masuk dengan baik melewati jendela yang langsung menghadap matahari pagi. Dekorasi ruang terlihat antik dan kuno dengan kumpulan foto yang telah menguning terpajang di dinding yang menggunakan latar tempelan bermotif bunga tulip dan dinding berwarna ungu pucat. Ketika masuk, dekat jendela terdapat kursi malas berwarna kuning terang. Pada ruang tengah itu, dialasi oleh karpet motif persia berwarna cokelat. Lemari dengan kaca menyimpan dengan apik surat-surat dari tahun 40’an, juga mainan-mainan plastik. Meja kayu yang memiliki kaca di tengahnya, di tempati bermacam kue dan sereal rendah gula juga koran dan majalah di bawahnya. Ada sekotak kumpulan piringan hitam di sebelah meja ukiran kecil berwarna hitam tempat kalender dan jam analog kecil juga beberapa buku catatan kecil dan sebuah pena yang ditata rapi. Jika bukan tempat terjadinya pembunuhan, tempat ini telah menggodaku untuk beristirahat.

Garis polisi melintang pada pintu menuju sebuah kamar tidur. Dua sosok mayat terbujur kaku di atas tempat tidur berukuran besar. Sepasang kakek-nenek berusia kisaran tujuh puluh sampai delapan puluh tahun terbaring dengan tikaman pisau dapur tepat di jantung masing-masing. Ada bercak darah yang telah mengering di sekitar tubuh mereka. Posisi dua mayat terlentang berbaring rapih sejajar, mungkin sudah diatur sedemikan rupa. Wajah keduanya yang lurus, tidak mengisyaratkan apapun, seolah sedang tertidur pulas. Tidak ada tanda-tanda perusakan kunci, ataupun tanda perlawanan dari korban, itu pun mungkin karena kondisi yang lemah, mengingat usia korban yang cukup tua untuk melawan pembunuh yang masih sangat bugar. Tidak ada saksi mata, maupun yang sekiranya mendengar suara mencurigakan dari dalam. Satu-satunya petunjuk adalah bangkai kambing yang tersangkut di tralis pagar di luar jendela. Darah dari mayat kambing mengalir sampai bawah, dan diketahui oleh penghuni bawah yang langsung memeriksa ke kamar 322. Dengan izin pemilik apartemen, sekitar pukul empat lebih empat puluh lima pagi, kamar dibuka paksa dan menemukan korban dalam kondisi tewas.

Ruang sudah ditangani beberapa tim forensik dari kepolisian, beberapa di antara mereka mengabadikan dengan kamera. Ada yang membuat cap jari, menganalisa mayat, mencoba mencari-cari kemungkinan petunjuk. Pembunuhan seperti ini, adalah kasus yang tidak akan kita pahami segala petunjuk dan motif dibaliknya.

“kau lihat? lagi-lagi ada yang menempatkan kambing dalam aksinya.” Yfet mengingatkanku tentang perkataanya di telepon tadi pagi.

“kau yakin surat itu merupakan kebenaran sebuah ancaman?” kataku. “kau tidak temukan sesuatu? sama sekali? mungkin ada pelafalan kata yang meleset? atau urutan sistematis, berupa sandi? atau apapun?”

“itu bukan ancaman. Dia hanya mencoba memberikan gambaran bahwa dia punya aksi yang dia anggap perlu. Hanya itu, tidak ada yang lain…” tegas Yfet. “…kita tidak bisa memang langsung menyimpulkan surat itu merupakan sesuatu petunjuk yang penting; lagipula, belum tentu tersangka adalah orang yang sama. Sejauh ini, kata-kata kambing hanya secara kebetulan lalu ada pembunuhan lain yang meninggalkan bangkai kambing segar di lokasi kejadian.”

Memang ini bukan kali pertama ada kasus seperti ini. Yfet percaya bahwa pembunuhan ini akan menjadi pembunuhan berantai. Kasus semacam ini biasanya melibatkan jiwa yang sakit. Tersangka dengan sengaja ingin memperlihatkan rencana pembunuhannya ke depan, untuk tujuan kepuasan semata. Namun, firasatku merasa lain, ada yang tidak beres di sini. Ada sesuatu yang terasa ganjil pada kasus-kasus terakhir belakangan ini. Semacam kejanggalan seperti percepatan waktu di hari minggu.

Yfet memintaku untuk mencari informasi mengenai ini. Dia akan menggunakan jalur lain katanya. Jalur lain? Jalur seperti apa? Namun kini yang kuperlukan adalah merunut semua petunjuk yang telah didapat. Mungkin ada sesuatu yang kami lewatkan. Pertama, harus kuatasi kegelisahanku terlebih dahulu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s