Saat-saat Yang Nyaman

Aku ditempatkan dalam sebuah ruang dengan cahaya yang putih. Udaranya dingin di sini. Di luar sana, siang atau malam? Cahaya yang menyilaukan membuat mataku sakit, mungkin karena terlalu lama dalam ruangan yang gelap.
Aku terikat di kursi. Tali yang membelenggu sama dinginnya dengan udara beku. Kepalaku bersandar pada sandaran kursi yang tidak terlalu empuk, terikat pula. Aku pernah datang ke dokter gigi sekali waktu, tapi kurasa bukan saat ini. Kulihat nampan besar dari alumunium dengan alat-alat yang penuh gerigi dan pisau di atasnya. Mengkilat memantulkan cahaya dari lampu neon yang terang.
Udara yang dingin berdesir melalui darahku, membuat kepala pening rasanya. Lantai yang bersih, dinding putih, dan tirai-tirai plastik yang bening adalah sekitarku. Meja kecil di sudut ruangan, botol-botol yang berisi cairan apa entah, dan selang kecil yang kusut hanya sedikit terlihat. Dalam kemiringan yang seperti ini, sudut-sudut ruangan yang putih terlihat apik. Punggung dan leherku rasanya pegal sekali, sudah berapa lama aku begini? Mungkin tiga jam atau dua setengah. Sementara itu, cahaya yang menyilaukan masih menerangiku dalam ruang yang teramat terang.
Pintu terbuka, dan ada beberapa orang yang masuk. Mereka mengenakan pakaian terusan yang sama sepertiku, bedanya, mereka menggunakan sarung tangan, masker dan penutup kepala. Mereka membawa alat yang besar yang didorong dengan roda kecil. Di dalam alat itu terdapat pompa yang berada dalam tabung kaca. Semua tombol, indikator dengan angka atau mungkin grafik, tidak mengindahkan ruang yang dingin ini.
Tabung-tabung besar didorong melewati pintu. Suara dentingan yang terdengar dari tubuh tabung yang beradu dengan besi dorongannya, membuat setiap mata mengalihkan pandangannya walau hanya sebentar. Besi yang mengelupas menghasilkan bau yang khas. Suara roda yang menggelinding beradu dengan lantai yang licin membuat jantung tersengal ketika dilewatinya. Hawa dinginnya menyeruak di ujung syaraf yang tegang.
Orang-orang tadi berkumpul di sekitarku. Mempersiapkan segala keperluan yang perlu dalam ruangan dengan cahaya putih. Mereka berbincang dengan bahasa yang tidak kuketahui. Memilah-milah pisau dan gerigi pada nampan. Menyetel selang dan tombol-tombol serta jarum dan cairan-cairan yang aromanya tidak terlalu sedap. Satu di antara mereka membuka mataku dan menyorotinya dengan cahaya kecil. Menyilaukan!
Aku terdiam membiarkan segala perilaku mereka terhadapku. Mau bagaimana lagi, aku terikat pada kemiringan yang memuakan ini. Ada di antara mereka yang menekan pergelangan tanganku, yang satu menekan leher, juga membuka mulutku dan memperhatikan lidahku. Apa yang mereka cari? Kadang mereka menghitung waktu mereka dengan waktu denyut tubuhku, siapakah yang lebih cepat. Satu di antara mereka takberhenti terus mengelus dadaku, rasanya tidak karuan, mungkin karena dingin juga. Belaiannya terus berlangsung sampai ke perut dan pangkal paha.
Orang yang dari tadi seperti menginstruksikan sesuatu—mungkin dia yang mengatur segala kemungkinan di sini—menyuntikku dengan pentathol. Aku tahu itu karena salah satu di antara mereka—yang terus mengelus tubuhku, terus mengatakannya dengan lembut di telingaku.
“pentathol…pentathol…uh…pentathol…” suaranya lembut, mungkin basah dan lembab di setiap sela napasnya.
Cahaya yang begitu menyilaukan menjadi lembut, begitu lembut seperti hamparan kain putih yang terapung-apung menutupi udara. Bias-bias cahaya seperti payung yang berputar-putar, menari bersama irama hembusan udara yang sesak di kerongkonganku; kini terdengar merdu dan sejuk. Selang yang masuk melewati hidung dan mulutku terasa seperti mencair, begitu juga dengan rahang, gigi dan seluruh dadaku. Orang yang mengelus dadaku tadi memutar-mutar permukaannya yang kini cair. Jemarinya seperti sedang bermain dengan ikan.
Aku mendengar hembusan napas, sangat kencang dan lirih. Aku coba melihat sekitar, mungkin hanya cahaya. Rasa-rasanya mataku berair, tapi tidak pernah mengalir. Bayang-bayang basah, hanya menggerayang di bola mata.
Suara mesin berdesing terdengar bising. Benda tajam yang berputar berada tepat di belakang kepalaku. Sandaran kursi pada kepala, sepertinya memiliki ruang terbuka. Suaranya semakin terdengar melengking. Benda berputar itu mendekat. Suara napas yang mencair, kini beriak-riak seperti ombak.
Seluruh pandanganku bergetar seketika. Cahaya yang sepoi-sepoi saling tabrak ke sana-sini. Suara gaduh meluluh-lantahkan bayangan-bayangan imaji yang lembut, berputar, terpilin dengan aroma yang menyengat: aroma besi tua. Di belakang kepalaku, terasa seperti ada lubang yang menyebarkan aliran listrik hingga ujung kaki. Sensasi getaran yang gaduh, membuat kepalaku seperti pusaran.
Benda itu terus menerobos kepala belakangku. Melubangi tengkorak dan lapisan-lapisan di baliknya. Bunyi timah dan tulang beradu dalam putaran, mungkin akan menghasilkan panas atau daya, bagaimana aku tahu? Putarannya terdengar sampai belakang telingaku, berkata “hai dengar, aku di kepalamu!” aliran listrik di otakku mungkin sekarang bergerak bebas.
Pompa dalam tabung naik turun seperti grafik di layar di bawahnya, cahaya berputar taktentu, benda yang bising di kepalaku berhenti berputar. Cairan yang hangat mengalir deras dari rongga kepalaku. Aromanya semerbak memenuhi ruangan. Kulihat orang-orang dengan masker itu—di antara mereka, telah bercecer bercak merah segar. Mereka berbincang kembali dalam bahasa yang tidak kuketahui. Sudah berapa lama cahaya-cahaya ini berubah warna-warni?
Beberapa di antara mereka mulai mengambil pisau dari nampan alumunium. Rasanya dingin dan beku ketika menyentuh kulit kepalaku. Aroma yang amis masih menyeruak ke seluruh ruangan. Rongga di kepalaku bernyanyi bersama nyanyian deru udara di kerongkongan. Menciptakan harmoni yang merdu.
Kepalaku berdenyut hebat. Dadaku pun berdegup tidak karuan. Bunyi yang nyaring terdengar mengelilingi ruangan, mungkin berputar searah jarum jam. Rongga di belakang kepalaku berteriak, menjerit karena terbongkarnya seluruh rahasia. Benda-benda yang tajam dan beku menembus tanpa ampun. Benda itu mengorek segala misteri dalam kepalaku. Membelah macam-macam rahasia yang selama ini tertutup dari dunia luar. Segala kenangan dan pengetahuan tumpah ruah ke lantai, berserakan, berceceran. Kepalaku terasa begitu kosong setelah sensasi tadi; dan udara bebas masuk berputar-putar dalam ruangannya. Perasaanku, hanya rongga di kepala.
Entah telah berapa lama mereka mengorekku. Suara hanya sayup-sayup terdengar. Udara semakin dingin merasuk pada tubuhku yang berongga. Cahaya-cahaya itu terlihat akan meredup, atau barangkali hanya mataku saja. Beberapa di antara mereka melepaskan sarung tangannya. Apakah semua ini berakhir?
Tubuhku sangat ringan, seringan udara. Menguap bersama cahaya yang menyilaukan. Ruangan yang dingin meregangkan kulitku yang kini meremang. Orang-orang itu pergi keluar ruangan, meninggalkan rongga di kepalaku. Cairan yang amis, masih mengalir deras.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s