Lunatic

Malam ini bulan berwarna cokelat, dengan relief bercorak indah di permukaannya. Aku tidak tahu corak apa, tapi garis-garis melengkung dan titik yang menonjol terlihat apik dari tempatku yang tinggi ini. Bulan, lebih terlihat seperti kayu. Angin sepoi malam ini, dingin, tapi tidak membuat suasana mencekam. Mungkin karena di bawah sana, orang-orang sirkus sedang bermain dengan tabuh-tabuhan dan binatang buas. Riuh, gaduh, kuharap para tetangga tidak mendengar.
Bulan terkadang malu-malu, akupun begitu. Kadang aku memang merasa malu, tersipu persis seperti bulan. Mungkin suatu saat kami akan tersipu bersama, dan mengintip sedikit dari awan yang tipis. Menikmati setiap sensasi yang menggelitik sampai tenggorokan.
Sirkus di bawah sana masih saja ribut, bahkan teramat ribut. Terdengar sangat anarkis. Mereka mungkin mulai bosan. Bosan dengan musik yang selalu sama, binatang yang sama, kostum dan riasan yang sama, dan tenda yang itu-itu saja. Musiknya mulai tidak beraturan, tenda warna-warni itu digoncangkan kesana-kemari. Beruang dicambuk dan dicabuti bulunya satu-persatu, sebaliknya, para badut juga dicambuk bergantian oleh para beruang.
“hoi! Berisik! Nanti para tetangga dengar!” teriakku pada mereka.
Mereka melihat kepadaku dan terdiam sebentar, lalu kembali pada pekerjaan semula: Menabuh dengan rapih, lampu-lampu yang gemerlap, bola-bola yang berputar, roda yang dikayuh dan tali yang panjang melintang. Tenda sirkus sudah didirikan kembali, kain warna-warni berkibar di mana-mana, dan para badut tertawa geli. Aroma gulali menyengat di halaman, mungkin sampai kota juga. Malam dengan sirkus di halaman, aromanya memang manis.
Bulan masih terlihat sama di sana. Meski kukira, coraknya berganti. Bukankah garis melengkung ada di bagian bawah? Aku memalingkan wajahku sebentar, lalu bulan berganti corak. Apakah bulan akan menipuku dengan wajahnya yang berubah-ubah, entahlah, tapi dia masih terlihat malu begitu.
Apakah ada yang memperhatikan bulan malam ini, seperti aku sekarang, merasa tertipu karena garis melengkung dibawahnya telah berubah. Aku kenal dengan seorang yang juga melihat bulan setiap malam. Dia pernah berkata “di sana, di bulan itu, ada seorang wanita sedang menjahit. Dari dulu memang begitu. Mungkin kini kainnya menutupi planet-planet yang jauh nan di sana.” Entah jika ia melihatnya sekarang mungkin ia juga akan merasa tertipu.
“bulan tidak akan pernah mengecewakan kita.” Suatu waktu ia pernah berkata kepadaku.
Kurasa ia akan kecewa, jika saja ia melihat apa yang bulan lakukan pada penontonnya malam ini. Entah ia akan seperti apa, perasaannya, rasa percaya yang telah ia bangun dengan bulan, kegelisahan yang dulu selalu terobati, rindu yang tersampaikan dan kegilaan yang menyenangkan. Mungkin ia akan tersakiti, dan memutuskan untuk tidak lagi melihat bulan. Rasa sakitnya akan membuat trauma yang mendalam.
Sirkus di bawah sana terdengar kembali porak-poranda. Tenda warna-warni sudah miring takjelas lagi. Tabuhan genderang takmenentu terdengar seperti apa. Alat-alat musik dilempar kesana-kemari, dijadikan permainan lempar tangkap. Kadang terjatuh dan menghasilkan bunyi yang gaduh. Para pantomim berteriak sekeras-kerasnya, berlarian, berputar-putar, dan meludah ke sana-sini. Gajah mereka terbalikan dan dilempar bersama-sama sekuat tenaga. Gajah berteriak melengking panjang menembus malam yang sunyi.
Mungkin mereka memang bosan dengan malam yang senyap. Tapi jika tetangga mendengar, akan menambah keributan malam ini. Aku heran, mereka jadi begitu liar. Para orang kerdil itu dilempar menembus lingkaran api. Para wanita gemuk berkumis memakan harimau yang tergolek lemas kerena seisi perutnya tercabik oleh cakar-cakar yang lapar. Darah berceceran, ah mungkin mengenai lantai. Bola yang penuh warna, menjadi peluru-peluru api.
“hoi! Berisik!! Nanti para tetangga dengar!” teriakku lagi.
BUUM!!! Gajah itu terjatuh tersungkur.
“tetangga akan marah jika kalian ribut begitu!” teriakku lagi.
Mereka memandangiku dari bawah sana. Sorot mata dari setiap mereka sungguh membingungkan. Mereka seperti berharap pada sesuatu, tapi mereka begitu marah. Cahaya pada mata mereka seperti dengki, tapi mungkin itu sorotan mata yang penuh dengan rasa iba. Lama mereka memandangiku begitu. Apa mereka iba kepadaku?
Tenda didirikan kembali. Tali dibentangkan memanjang, menarik puncak tenda dengan bendera kuning kecil yang berkibar. Alat musik dimainkan kembali merdu. Cahaya lagi-lagi gemerlap dan sorak-sorai juga senyum yang hangat kembali lagi. Aroma yang lucu dan humor yang menggelitik terdengar di mana-mana. Sirkus, telah kembali dalam permainan riang.
“aku heran! Kenapa sikap kalian begini?” ujarku lagi.
Musik masih terdengar merdu. Mereka tidak menggubrisku sama sekali. Mereka tenggelam dalam sukacita yang warna-warni, dalam gula dan kacang yang manis. Badut berlarian menaruh balon dan pita di sana-sini, mungkin juga sulap dan bunyi bel yang berbau plastik. Para hewan, menaiki sepeda dan terompet.
Sirkus memang unik. Jika mereka tidak di dalam renda-renda komedi atau kain dan kostum yang lucu, mereka ada di dalam teralis yang tragis. Di dalam besi yang dingin dan gelap. Kehilangan warna dan gula-gula yang memabukan. Mungkin aroma besi dan selimut kusamlah yang memabukan. Buat pening, berkeringat, gemetar dan rasanya ingin menggaruk di segala tempat. Sangat unik.
Kulihat bulan yang pemalu, sekarang—lagi-lagi ia menipuku! Ia rubah penampilannya. Coraknya kini hanya melengkung sepenuhnya, di mana titik tadi? Kupalingkan pandangan sebentar, dan dia telah berubah begitu rupa. Dia menyelinap di belakangku saat aku berpaling, memilih topeng yang lain, lalu kembali ke tempatnya semula; dan laut menari kebingungan karena sikapnya.
Malam ini bulan berwarna cokelat, dengan coraknya yang hanya garis lengkung. Diam dia di tempatnya, tegap, dan mengkilat. Bulan, terlihat seperti kayu. Aku sungguh heran dengan sikapnya malam ini. Jika kupalingkan wajahku, dia akan berubah, berusaha mengatakan kepadaku, bahwa dia bukanlah yang kulihat tadi. Bulan masih tersipu, entah karena apa, tapi aku memaklumi. Mungkin karena angin yang menggoda, melambai, mengelus setiap keremangan yang dilewatinya.
Apa benar di bulan ada wanita yang sedang menjahit, berapa usianya? Jika kainnya menutupi planet-planet yang jauh, kini angkasa mungkin semakin tenggelam dalam bentangan kainnya. Kain itu menutupi seluruh planet, asteroid dan debu-debu kosmik, menyembunyikan semua dari segala pandangan dan cakrawala yang mampu terlihat. Apa ini yang membuat bulan semakin angkuh, karena wanita itu telah menutup semua malam, dan menjadikan bulan terlihat begitu bercahaya kala gelap. Entahlah, mungkin perasaanku, tapi bulan terlihat penuh muslihat.
Gaduh yang amat sangat kembali terdengar di bawah sana. Badut berlarian dan berguling-guling, berteriak seperti memaki. Monyet dilempar sejauh mungkin, tenda dipelintir, kain-kain sobek di mana-mana, roda tidak lagi bundar dan dibanting sekeras tenaga. Gajah dan kuda berlarian panik, kembang api meledak bergantian. Mereka mulai membakar pohon dan pagar halaman. Asapnya hitam. Kalau tetangga tahu, bisa semakin ribut malam ini.
Api menyebar lewat tali-tali yang terbentang, berjatuhan menyambar rumput dan dinding. Bisa kurasakan panas di wajahku. Api semakin tinggi dan suara gaduh semakin menjadi. Keributan menyebar keluar, karena puluhan gajah berlari tunggang-langgang ketakutan. Para pantomim meloncat ke sana-kemari, berteriak liar, dan menghapus riasan wajahnya. Kelinci topi berhamburan, ada yang lari secepat-cepatnya taktentu arah karena badannya terbakar. Para pawang memakan ularnya, dan beruang mengamuk mengejar para penari.
“hoi! Kali ini tetangga pasti dengar! Mereka akan marah besar!”
Teriakanku taklagi mereka dengar. Mereka terlalu sibuk dengan hal-hal yang liar. Mereka mengacak-acak seluruh halaman. Api sudah menyebar ke luar, dan rumah para tetangga juga telah dilalap api. Kegaduhan meluas menuju kota. Hewan-hewan buas berlarian berpencar arah. Mungkin saat di kota, mereka temukan daging untuk makan. Belum lagi wanita berkumis pemakan segala. Kota akan gaduh malam ini, bahkan teramat gaduh.
Kucoba menghentikan mereka, namun ketika kulihat bulan, dia telah merubah coraknya lagi. Padahal aku hanya berpaling sesaat waktu, aneh. Lagi-lagi aku tertipu! Aku tidak akan membiarkan keangkuhannya itu. Sudah kuputuskan untuk tidak mengalihkan pandanganku terhadapnya. Aku akan mengalahkan tipu muslihatnya. Bahkan tidak akan berkedip aku kini, tidak akan kubiarkan dia menyelinap lagi saat aku berpaling. Kali ini, aku tidak akan tertipu.
Api telah menyambar seluruh kota. Kini suara gaduh takhanya musik dan tabuhan yang meriah. Cahaya yang gemerlap takhanya bola dan kain yang berwarna-warni, dan aroma malam ini, takhanya gula-gula yang manis. Badut dan orang-orang lucu, menjadi sebuah ironi. Teriakan itu, ketakutan, trauma, manusia-manusia yang mendengar kebisingan dan panas api. Kini, malam begitu larut dalam gaduh dan perasaan takut.
Malam ini bulan berwarna cokelat dengan corak yang memiliki garis melengkung. Diam, tegap mengkilat seperti kayu. Sikapnya masih saja tersipu malu begitu. Mungkin suatu saat kami akan tersipu bersama, dan mengintip sedikit dari awan yang tipis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s