Adam

Cahaya menjadi tipis seperti cahaya yang jatuh pada mata yang sedang berair. Terkadang ada semburat putih yang menyilaukan, namun takterlalu menyilaukan. Daun-daun yang hijau, bahkan amat sangat hijau tapi masih lembut, bergoyang karena sepoi angin pada siang hari yang cerah. Aku takmengira, bahwa saat-saat seperti ini akan hilang, atau mungkin, bahkan tidak perlu hilang.
Aku duduk di teras sebuah rumah yang mungil. Kursi rotan dan meja di sampingku, mungkin takberbicara, tapi apakah mereka dilewati Sang Waktu? Ah, bukan suatu persoalan jika memang begitu. Rumput hijau di pekarangan, pohon tua yang sejuk, apalah mereka dan ruang-ruang yang kosong di antaranya ; aku merasa pernah begitu dekat dengan garis takdir, rasanya, hanya seperti ruang-ruang kosong pula. Kini aku takpernah tahu apa itu takdir. Jika waktu hanya melingkar saja, kegelisahanku pun aku tidak tahu. Hanya duduk-duduk saja.
Wanita itu, wanita yang keluar dari rumah, adalah wanitaku. Wanita yang baik sejauh ini. Tapi saat-saat sekarang ini, ruang yang kosong rasanya membawaku ke hal-hal yang lain. Entahlah.
“rasa-rasanya aku ingin pergi saja.” Ujarku pada wanitaku, atau mungkin pada udara saja.
“kamu kan tahu, aku engga akan tahu.” Sahutnya jelas. “kamu gimana?”
Aku merasa takterlalu pantas untuk menjawabnya. Siapa yang akan tahu? Kukira hanya ruang-ruang di antara celah yang tiada bergema. Mungkin dalam waktu-waktu yang beku, celah itu, menjadi gerbang menuju waktu yang sama sekali lain.
“aku juga. Tapi aku ingin pergi. Kamu tahu?” jawabku sembari bertanya kembali kepadanya.
“aku tahu dari mana sih?  Kamu dari kemarin gelisah terus, kenapa?” bertanya dia, mungkin sedikit khawatir dengan kegelisahanku, atau pada ketidaktahuan kami.
“aku ingin pergi. Mungkin ke tempat yang antahberantah. Hutan, atau tempat yang terdapat pohon-pohon besar, atau laut, atau di dalam candi atau guci. Yang penting, aku pergi.”
“ketika kamu sudah di sana, terus apa?” nada bicaranya entah seperti apa, aku takmampu menjelaskan. Terdengar sangat aneh.
“ya, mungkin jadi larva, atau jadi opisisi biner, atau aksara, apa saja. Aku merasa terikat dengan kepergian, tapi takperlu diisi.”
Ya, setidaknya itu yang mampu aku katakan kepadanya soal perasaanku belakangan ini. Rasanya memang begitu dekat dengan takdir. Aku tidak terlalu percaya pada ikatannya, namun apalah jika waktu berputar? Mungkin hanya duduk-duduk saja.
Angin semakin sepoi meniup pepohonan dan lantunan. Suara gantungan bambu yang berputar karena angin, merdu seperti angklung yang takbergetar melainkan hanya bunyi, dapat menimang siapapun yang memang menikmati siang yang semakin sejuk. Semua jadi terasa melambat, dan semua kelambatan ini, membuat genggaman tanganku semakin kuat di tangannya. Aku dan dia takpernah mengerti sampai siang ini, mungkin sampai waktu siang yang lain. Semua perasaan ini, aku tidak dapat menjelaskannya secara tepat ; mungkin hanyalah seperti cahaya yang tertiup angin sepoi. Sungguh damai.
Angin semakin sepoi, dan juga terasa berhembus begitu hangat. Wajahku sudah lagi begitu dekat dengan wajahnya. Dia berkata, “aku ini milik kamu.” Nadanya tulus, takkutemukan gairah di sela napasnya. Apalah yang mungkin terlihat dalam pejam? Kupagut bibir atasnya yang tebal, perlahan, mengantarkan bibirnya melumat bibir bawahku. Apakah aku harus peduli dengan apa yang disentuh oleh lidahku, entah itu lidah, bibir, gigi, gusi, liur atau suara yang berdecak? Napas yang hangat adalah ciuman yang tulus.
* * * * *
Angin bertiup kencang dan pasir berterbangan. Debu langsung menempel pada kulit yang lengket karena udara yang panas. Aku melihat dia, wanitaku yang cantik, berjalan dari kejauhan, di balik bukit-bukit pasir jingga yang terhembus oleh angin. Badannya mungil namun meliuk indah. Dadanya tegak takterlalu menggantung tertutup sebagian oleh selendang tipisnya yang berwarna hijau. Kulitnya cokelat dan mengkilat karena debu dan panas. Hari ini matahari terbit tiga kali, yang terakhir hanya sebesar bulan.
Aku duduk pada bukit yang paling besar, cukup lama. Aku menunggu kedatangan wanitaku. Aku sangat merindukannya. Angin kini membawanya bersama pasir yang terang dan terbang. Lambaian selendangnya mengingatkanku betapa ia makhluk yang indah, bahkan teramat indah. Sejak waktu yang telah silam, sudah berapa lama aku tidak melihatnya.
“aku merindukanmu, sangat.” Ujarku sambil memeluknya yang telah begitu cepat datang menghampiriku bersama angin dan debu.
“dapatkah perpisahan kita lebih sulit dari ini?” sambil sedikit terisak, kutahu nada itu adalah kerinduan dan ketakutan.
“kamu tidak akan tahu, begitu juga aku. Kuharap hanya waktu-waktulah yang berlalu.” Kucoba untuk menenangkan hatinya yang gundah.
Angin masih sangat kencang, menerbangkan ribuan butir pasir yang berliuk-liuk di udara. Cuaca yang panas tidak akan menghangatkan perasaan kami yang beku. Hanyalah pelukan yang baik bagi kami yang telah lama takberjumpa. Kudekap erat tubuhnya yang licin mengkilat. Kulit kami yang kumal karena pasir dan panas menempel erat seolah tidak akan pernah lepas.
“aku berjalan bersama matahari terbesar di atasku sebagai penuntun, lalu sampailah aku di sini. Aku menunggu di bukit tertinggi ini saat ketiga matahari sejajar lurus juga dengan bukit ini. Setelah hari berlalu, ketika ketiganya berpencar lagi sekehendak mereka, kulihat kau berjalan dari arah matahari yang terbesar pula.” Ujarku menceritakan pencarian atas dirinya.
“bagaimana kau sampai di sini sayangku?” tanyaku.
“aku datang bersama angin dan pasir yang mengombang-ambing matahari. Kadang saat matahari yang kecil takterlihat di langit, ia terombang-ambing bersama angin dan pasir di bawah kakiku. Kuikuti setiap gelombangnya, tentu kadang pula matahari yang kecil harus terbit meski akan terbenam lagi. Lalu aku melihatmu di desiran pasir paling lembut.” Jawabnya sambil sedikit terisak.
Kugenggam tangannya erat. Aku berjanji, mungkin dia juga, bahwa kami tidak akan berpisah lagi atau mencari dalam cuaca yang indah sekalipun. Kami berdua berdiri melawan angin yang bertiup kencang taktentu arah. Meniupkan selendang hijaunya yang lembut dan jubah putih milikku. Sementara itu, kami menyaksikan matahari yang terbesar tenggelam di cakrawala.
* * * * *
Aku terbangun pada tempat yang asing. Lebih tepatnya tersadar akan suatu hal. Rasanya ini baru pertamakali, bahkan lebih pertamakali dari dilahirkan. Rasanya begitu aneh. Banyak sekali pertanyaan, tapi apakah itu sebuah pertanyaan, kemungkinan seperti apa? Cahaya disekelilingku sangat menyilaukan. Apa aku cahaya itu? Kurasakan sensasi kulitku tersentuh oleh angin, dibuai oleh udara yang sejuk dan segar. Bahkan dapat kurasakan bahwa angin menyentuh kulitku yang lembut. Detak jantung, aliran darah, semua terasa. Semua begitu dekat. Sungguh damai.
Apa aku baru dari suatu tempat, nan jauh. Apa aku baru keluar dari sebuah plasenta, ataukah ini ingatan pertama saat dilahirkan, dan akan terhapus dengan cepat? Kutemui diriku tersungkur di rerumputan yang hijaunya lembut seolah dibaliknya hanyalah rumput bukan tanah bebatuan. Langitnya cerah, cahaya hanya ingin masuk pada perasaan yang menyenangkan. Begitu jujur. Pohon-pohon rimbun, dengan buah bermacam warna dan bentuk. Aroma angin yang datang dari celah-celah tebing berwarna gading dan air yang mengalir ke bawahnya memantulkan cahaya yang takpunya rahasia. Di mana aku?
“kau adalah bagian dari tubuhku yang hilang, dan akan melengkapiku kelak. Itulah yang telah dijanjikan.” Seorang wanita yang takjauh dari tempatku berbicara sangat lantang penuh wibawa.
Kakinya yang jenjang, tubuhnya yang molek, dan kulitnya yang teramat tipis sehingga aku dapat melihat bebatuan putih di belakang tubuhnya, membuat aku takmampu untuk berdiri menikmati wajahnya yang seperti air. Siapakah makhluk mengagumkan ini?
“aku adalah Adam, diciptakan dari tanah bukit ini. Kau adalah tulang rusukku yang akan melengkapiku kelak. Di tanah ini, segala kenikmatan, diperuntukan kepadaku dan pasanganku.” Berkata lagi dia berusaha menjelaskan. Mungkin dia melihat ketidaktahuan di wajahku.
Suaranya begitu lantang. Menggetarkan seluruh cahaya yang lugu. Aku terikat bersama wanita itu, ditakdirkan menjadi pendampingnya. Rasanya begitu dekat dengan garis takdir. Apa aku akan percaya dengan takdir?
Aku terlahir dari tulangnya. Tulang seorang wanita bernama Adam. setelah hari-hari yang berlalu, bagaimana sebelum dilahirkan? Semburat cahaya yang sejuk, wangi aroma angin yang berbisik, rumput-rumput yang lembut, apalah itu semua dalam waktu yang berputar? Mungkin memang hanya duduk-duduk saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s